Diskusi Publik
BERTELURdenganBEBAS: Transisi Menuju Telur Ayam Bebas Sangkar
(Cage-Free)
Jakarta, 22 Januari 2026 – Diskusi publik bertajuk “BERTELURdenganBEBAS: Transisi Menuju Telur Ayam Bebas Sangkar (Cage-free)” telah sukses diselenggarakan sebagai forum kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, peternak, ritel modern, masyarakat, dan lembaga sosial masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman bersama serta merumuskan langkah strategis dalam mempercepat transisi menuju sistem pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar (cage-free) di Indonesia.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung konstruktif, sejumlah poin penting berhasil dirumuskan sebagai berikut:
- Pentingnya Edukasi Berkelanjutan
Partisipan secara umum menyambut positif terhadap upaya pemenuhan kesejahteraan hewan melalui sistem pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar (cage-free). Hal ini dapat diciptakan dengan edukasi berkelanjutan sebagai upaya perubahan perilaku, dan dirancang lebih relevan dan sesuai dengan konteks dan budaya masyarakat Indonesia.
- Potensi Besar di Sektor Ritel dan Tantangan Harga
Diskusi ini menyoroti bahwa pasar telur bebas sangkar (cage-free) di sektor ritel memiliki potensi besar karena konsumen mulai peduli terhadap isu etis dan keberlanjutan. Namun, harga yang cukup tinggi menghambat daya beli dan penyebaran produk. Dengan itu, diperlukan strategi efisiensi biaya produksi serta peningkatan daya tarik kemasan agar produk lebih mudah dikenal dan dapat diterima oleh masyarakat.
- Peluang Lokalisasi Sertifikasi
Saat ini, standar kesejahteraan hewan masih banyak merujuk pada sertifikasi luar negeri. Peserta diskusi menilai perlunya sertifikasi nasional dengan standar yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kondisi peternak lokal. Untuk mencapainya, sosialisasi melalui media sosial dan edukasi sangat penting agar peternak dan masyarakat paham sepenuhnya mengenai sertifikasi.
- Penguatan Aspek Sertifikasi dan Koordinasi Antar Sektor
Diskusi mencatat bahwa sertifikasi kesejahteraan hewan saat ini masih bersifat sukarela (voluntary), sehingga diperlukan standar nasional yang lebih tegas dan terukur. Selain itu, kurangnya koordinasi data antar sektor menghambat transisi ke sistem cage-free. Pemerintah memegang peran penting dalam menyelaraskan kebijakan dan menyederhanakan aturan agar peternak lebih mudah bersaing di pasar lokal maupun ekspor.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan sepakat untuk terus berkolaborasi demi transisi sistem cage-free yang inklusif dan efisien. Inisiatif ‘BERTELURdenganBEBAS’ diharapkan mampu mempercepat terciptanya ekosistem peternakan di Indonesia yang lebih etis, transparan, dan berkelanjutan.





