Research Report PASI

Executive Summary

Penelitian ini dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara berbasis kuesioner di 48 gerai minimarket pada lima wilayah DKI Jakarta. Pemilihan lokasi dilakukan secara proporsional untuk mewakili variasi karakteristik gerai dan pola konsumen, sehingga memberikan gambaran komprehensif mengenai kesiapan jaringan minimarket dalam mendukung pemasaran produk telur cage-free. 

Hasil observasi menunjukkan bahwa hingga saat ini, seluruh gerai minimarket masih menjual telur konvensional dalam berbagai varian, seperti telur ayam negeri, telur ayam negeri omega, telur ayam kampung, dan telur ayam kampung omega. Produk cage-free belum ditemukan di seluruh titik observasi. Temuan ini menegaskan adanya ruang besar bagi gerai untuk memperluas pilihan konsumen sekaligus memperkuat citra mereka sebagai pelaku usaha yang progresif dan peduli pada keberlanjutan. Survei terhadap pegawai di 48 gerai memperlihatkan pemahaman yang cukup kuat mengenai prinsip kesejahteraan hewan. Sebagian besar responden menekankan pentingnya kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan tempat tinggal yang layak (60,4%), serta kebersihan dan pemeriksaan kesehatan berkala (58,3%). Menariknya, hampir 39,6% responden menyatakan bahwa seluruh prinsip kesejahteraan hewan benar adanya, menandakan adanya kelompok pegawai yang telah memahami konsep ini secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran internal mengenai isu kesejahteraan hewan sudah mulai terbentuk, meskipun masih perlu diperkuat pada aspek psikologis dan perilaku alami hewan.

Lebih penting lagi, survei juga menegaskan bahwa mayoritas pegawai menilai penyediaan telur cage-free akan sejalan dengan citra gerai. Sebanyak 37 pegawai (77,1%) menyatakan bahwa langkah tersebut sangat sesuai dengan citra perusahaan, sementara 43 pegawai (89,6%) menilai bahwa produk cage-free akan menjadi nilai tambah bagi gerai, memperkuat reputasi mereka di mata konsumen. Hanya sebagian kecil responden yang menyatakan kurang sesuai atau belum terpikirkan, menunjukkan bahwa dukungan internal terhadap inisiatif cage-free relatif kuat dan konsisten.  

Temuan ini menyoroti tiga hal penting bagi jaringan minimarket di Jakarta:  

  1. Adopsi awal yang menjanjikan, meskipun produk cage-free belum tersedia, kesadaran pegawai dan konsumen membuka jalan bagi adopsi di masa depan.  
  2. Citra perusahaan semakin kuat, penyediaan produk cage-free dipandang konsisten dengan nilai keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan.  
  3. Peluang pengembangan pasar terbuka, dengan memperluas distribusi dan meningkatkan keterjangkauan, gerai dapat memposisikan diri sebagai pionir dalam perubahan positif.  

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa inisiatif cage-free di Jakarta bukan sekadar isu pasokan, tetapi juga bagian dari strategi reputasi dan kepercayaan konsumen. Dengan menghadirkan produk cage-free, jaringan minimarket dapat memperkuat citra mereka sebagai mitra yang peduli pada kesejahteraan hewan, keberlanjutan, dan pilihan konsumen yang lebih baik. Bukti dari 48 gerai ini menjadi dasar advokasi untuk mendorong percepatan komitmen, peningkatan keterjangkauan, serta pemerataan akses terhadap produk cage-free di Jakarta. 

Scroll to Top